Ranking Manajer Manchester United Pasca-Ferguson: Amorim Terburuk, Mourinho Tak Tergoyahkan

 

Era pasca-Sir Alex Ferguson menjadi periode paling bergejolak dalam sejarah modern Manchester United. Pergantian manajer silih berganti terjadi, namun tak satu pun benar-benar mampu mengembalikan dominasi Setan Merah secara konsisten. Dari sekian nama yang pernah memimpin Old Trafford, performa mereka meninggalkan jejak yang sangat kontras—dengan José Mourinho tetap berdiri paling kokoh, sementara Ruben Amorim justru tercatat sebagai yang terburuk.

Berikut ranking manajer Manchester United pasca-Ferguson berdasarkan hasil, dampak, dan warisan yang ditinggalkan:

1. José Mourinho – Paling Sukses & Paling Stabil
Mourinho menjadi standar tertinggi era pasca-Ferguson. Ia mempersembahkan tiga trofi, termasuk Liga Europa dan Piala Liga, serta membawa United finis di posisi liga terbaik sejak 2013. Meski gaya mainnya kerap dikritik, hasilnya nyata. Hingga kini, pencapaiannya belum tergoyahkan.

2. Louis van Gaal – Fondasi Filosofi & Regenerasi
Van Gaal memang menuai kritik soal gaya bermain yang kaku, tetapi ia memberi Piala FA dan memperkenalkan banyak pemain muda. Filosofinya menjadi fondasi penting, meski kurang maksimal dalam jangka pendek.

3. Ole Gunnar Solskjær – Nyaris, Tapi Tak Pernah Cukup
Ole membawa stabilitas emosional dan beberapa musim kompetitif, termasuk finis runner-up liga. Namun kegagalan meraih trofi membuat eranya terasa menggantung—cukup baik, tapi tidak bersejarah.

4. Erik ten Hag – Awal Menjanjikan, Lalu Stagnan
Ten Hag sempat memberi harapan dengan trofi domestik dan disiplin taktik. Namun inkonsistensi performa, konflik internal, dan hasil besar yang mengecewakan membuat progresnya terhenti.

5. David Moyes – Terlalu Cepat, Terlalu Berat
Sebagai suksesor langsung Ferguson, Moyes menghadapi tekanan besar. Minimnya adaptasi dan hasil buruk membuat masa jabatannya singkat dan sulit dinilai secara adil.

6. Ruben Amorim – Terburuk Secara Dampak & Hasil
Amorim dinilai paling mengecewakan. Filosofi yang tak cocok, hasil yang buruk, serta kegagalan membangun identitas tim membuat eranya cepat runtuh. Ia gagal meninggalkan dampak positif, baik secara taktik maupun mental tim.

Kesimpulannya, era pasca-Ferguson menegaskan betapa sulitnya menggantikan seorang legenda. José Mourinho tetap menjadi tolok ukur kesuksesan di tengah kekacauan, sementara kegagalan Amorim menjadi pengingat bahwa reputasi saja tak cukup di klub sebesar Manchester United.

Setan Merah masih terus mencari sosok yang bukan sekadar pelatih, tetapi pemimpin sejati—seperti yang pernah mereka miliki selama lebih dari dua dekade.

Postingan populer dari blog ini

Kilas Balik Kasus Penyiraman Air Keras Agus Salim oleh Rekan Kerjanya di Cengkareng

Cavan Sullivan: Wonderkid 15 Tahun yang Siap Menggebrak Man City U-21

Hasil Orlando City vs Inter Miami: Tanpa Messi, Luis Suarez dkk Loyo Dihantam 4–1