Emirates Stadium kerap menjadi mimpi buruk bagi Manchester United. Dalam satu dekade terakhir, Arsenal menunjukkan dominasi yang konsisten saat menjamu Setan Merah. Dari duel taktis hingga kemenangan penuh gengsi, tujuh kemenangan kandang Arsenal menjadi bukti bahwa The Gunners memang punya aura berbeda ketika bermain di London Utara.
Kisah ini dimulai dari era transisi pasca-Alex Ferguson, ketika Manchester United kerap datang dengan status favorit, namun pulang dengan kepala tertunduk. Arsenal, yang perlahan membangun identitas baru, memanfaatkan setiap celah—baik melalui permainan cepat, tekanan tinggi, maupun disiplin taktik yang rapi.
Salah satu kemenangan paling ikonik terjadi saat Arsenal tampil efisien tanpa harus mendominasi penguasaan bola. Gol-gol cepat dan organisasi pertahanan yang solid membuat United frustrasi, sekaligus menegaskan kematangan Arsenal dalam laga besar. Emirates pun berubah menjadi panggung pembuktian mental juara.
Di laga lain, Arsenal menunjukkan versi berbeda: agresif sejak menit awal. Tekanan intens memaksa United melakukan kesalahan sendiri. Gol demi gol tercipta bukan hanya dari kualitas individu, tetapi dari kolektivitas tim yang padu—sebuah ciri khas Arsenal era modern.
Menariknya, kemenangan-kemenangan ini datang dari berbagai generasi pemain. Dari era Wenger menuju Arteta, filosofi boleh berevolusi, tetapi satu hal tetap sama: kepercayaan diri Arsenal saat menghadapi Man United di kandang. Faktor atmosfer Emirates dan dukungan suporter jelas memainkan peran besar.
Bagi Manchester United, statistik ini menjadi pengingat bahwa nama besar saja tak cukup. Setiap kunjungan ke Emirates menuntut kesiapan mental dan taktik tingkat tinggi. Sebaliknya bagi Arsenal, rekor ini adalah modal psikologis yang berharga setiap kali duel klasik kembali tersaji.
Napak tilas tujuh kemenangan ini bukan sekadar catatan angka. Ia adalah cerita tentang dominasi kandang, identitas yang terjaga, dan pesan tegas bahwa ketika bermain di Emirates, Arsenal bukan hanya tuan rumah—mereka adalah penguasa.
